Pengorbanan Seorang Ibu, Rela Menanggung Hutang Puluhan Juta Demi Anak-anaknya

Posted on

Anak merupakan salah satu kebanggaan yang dimiliki oleh orang tua, terlebih kalau memang anaknya ini bisa mencapai kesuksesan tanpa melupakan orang tuanya. Tentu pengorbanan selama ini tidaklah sia-sia, dimana memang para orang tua akan mengorbankan banyak hal demi mendukung anaknya untuk melangkah lebih maju.

Setiap kita pasti pernah merasakan kasih sayang seorang ibu. Kasih sayang tanpa batas, yang tak pernah mengenal masa. Seorang ibu, sanggup melakukan apapun demi anak-anaknya, bahkan bertaruh nyawa sekalipun.

Loading...

Hal inilah yang terjadi pada Yuniati, wanita berusia 49 tahun asal Bantul, Yogyakarta Wanita ini rela melakukan apa saja agar kebutuhan pendidikan anak-anaknya terpenuhi.

Yuniati hanyalah buruh cuci, tapi ia berhasil mengantarkan kedua anaknya ke pintu sukses. Satya Candra Wibawa Sakti (29), putra pertama dari Ibu Yuniati saat ini tengah menyelesaikan pendidikan S3 di Universitas Hokaido, Jepang. Sedangkan putri keduanya, Oktaviana Ratna Cahyani (27) telah lulus dari Universitas Bethesda dan saat ini bekerja di Rumah Sakit Harjo Lukito.

Tak ingin anak-anaknya merasakan kesulitan hidup seperti yang dialaminya, Yuniati berusaha keras untuk menyekolahkan mereka. Pendapatannya sebagai buruh cuci hanya berkisar Rp. 250.000 per bulan, tentu saja secara logika nominal ini jauh dari kata cukup. Namun, nyatanya Yuniati mampu melakukannya.

Putra pertamanya berhasil menempuh pendidikan hingga kuliah S-1 di jurusan Kimia Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Sakti kemudian melanjutkan S-2 di jurusan Kimia UGM pada tahun 2008, dan kini sedang menempuh pendidikan S-3 di Universitas Hokaido, Jepang.

Namun, Yuniati hanya membiayai Sakti sampai S-1 karena Sakti selalu mendapatkan beasiswa untuk jenjang S-2 dan S-3 nya. Uang kuliah Sakti setiap semesternya adalah Rp. 4 juta, dan Yuniati hanya membayar setengahnya karena setengahnya lagi dibantu Dinsos.

Sedangkan untuk biaya kuliah putri keduanya, Yuniati harus membayar Rp. 2jutaan per bulan, biaya asrama Rp. 600.000 dan Rp. 90.000 untuk satu mata kuliah.

Untuk membayar biaya tersebut, Yuniati pun harus berhutang kepada beberapa bank. Dari yang bunganya besar hingga kecil. Bahkan, sampai saat ini Yuniati masih memiliki hutang ke berbagai bank sejumlah 30an juta rupiah.

Rupanya, Yuniati tidak menceritakan hal tersebut kepada anaknya. Utang ini pun ditanggungnya sendiri. “Saya saja yang tahu, biar mereka konsentrasi belajar saja,” ujarnya.

Saat ini, Yuniati mengaku merasa sedikit ringan untuk mencicil hutang-hutannya, karena kedua anaknya sudah mampu untuk menghidupi diri sendiri. Ia bersyukur bahwa anak-anaknya sudah bisa mandiri. Sakti sudah selesai S3, namun masih di Jepang. Oktavia sudah menjadi perawat, bahkan sudah menikah.

“Kalau prinsip saya, anak-anak mau membantu saya (sekarang) alhamdulilah. Kalau tidak, itu memang sudah tugas saya,” ucapnya. Keyakinan Yuniati hanya satu bahwa Tuhan tidak akan memberikan cobaan melebihi kemampuan umatnya.

Sahabat, demikianlah kasih sayang seorang ibu, yang terus memikul tanggung jawab seorang ibu, bahkan ketika anak-anaknya telah dewasa dan mandiri.

Semoga kita tidak menjadi sosok yang abai kepada jasa-jasa orang tua kita, karena sesungguhnya jasa mereka tidaklah bisa kita bayar bahkan dengan seluruh hidup kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *