Kisah Tuna Netra Yang Pantang Mengemis. Pilih Jadi Pemecah Batu, Ternyata Bisa Pelihara 65 Yatim

Posted on

Namanya jalan kehidupan dimana setiap orang dapat memilih dan menentukan masing-masing berdasarkan keadaannya yang sekarang.

Dan sepertinya sosok berikut bisa menjadi inspirasi dimana meski mengalami kondisi fisik tidak seperti orang pada umumnya, akan tetapi masih tidak mau mengandalkan rasa kasihan dari orang lain.

Loading...

Banyak masyarakat desa yang memilih hijrah ke ibu kota untuk mendapatkan pundi-pundi uang. Begitu pula harapan Surono muda, ketika meninggalkan kampung halamannya berpuluh tahun silam.

Memulai ‘karir’ sebagai penjaga toko, Surono mengecap pahit manis kehidupan. Ia sempat menikah, namun Istri pertamanya itu meninggal bersama bayi dalam kandungannya, hingga penglihatannya yang berlahan mengabur dan akhirnya tak bisa melihat.

Dalam masa itu, Surono berganti-ganti pekerjaan sesuai kemampuannya. Sempat berjualan telur asin keliling, hingga berjualan pisang. Suatu waktu, Surono yang sudah kesukaran melihat terjatuh saat pulang berdagang pisang. Ia meraba-raba apa yang membuatnya terjatuh. Ternyata pecahan batu dan batu bata. Saat itu ia berdoa semoga Allah membukakan pintu rezeki dari jalan tersebut, dan menggugurkan dosa-dosanya.

Surono merasa, itulah jalan yang ditunjukkan Allah baginya. Ia mantap menjadi pemecah batu. Hanya bermodal sebuah palu, dan tetap bisa dikerjakan dengan kondisinya yang sudah tak bisa melihat lagi.

Surono menekuni pekerjaan sebagai pemecah batu dengan sangat berdedikasi. Pagi-pagi sekali ia telah berangkat ke lokasi kerjanya, dan pulang hanya untuk makan dan sholat. Meski, penghasilannya tak seberapa, Surono senantiasa mensyukurinya, bahwa ia masih bisa makan dan menjalani kehidupan yang baik.

Ia teringat, saat hampir putus asa, ia sempat berpikir menjadi pengemis di lampu merah. Surono sangat bersyukur, Allah menunjukkannya cara meraih rezeki selain dari mengharap belas kasihan orang lain.

Meski sudah menikah lagi, rupanya Surono tidak dikaruni seorang anakpun. sebagai gantinya Surono merawat anak yatim dan kaum dhuafa. Awalnya hanya dua orang, namun saat ini berjumlah sekitar 65 orang yatim dan puluhan dhuafa. Sebagian anak yang diasuhnya sudah bekerja, bahkan ada yang kuliah.

Surono mengaku tak pernah meminta-minta derma untuk menghidupi dan menyekolahkan anak-anak yang diasuhnya itu, namun banyak orang dermawan yang justru datang mencarinya dan memberikan bantuan.

Bagi Surono, semua kemudahan itu adalah berkat bersyukur kepada Allah Ta’ala. Surono meyakini barang siapa yang bersyukur atas yang sedikit, maka Allah akan tambahkan nikmat-Nya pada mereka. Dan begitulah Surono telah membuktikannya sendiri.

Surono juga tak pernah mengkhawatirkan dirinya saat bekerja, meski pekerjaan tersebut cukup berbahaya baginya. Ia bisa saja jatuh terperosok atau tertabrak saat berjalan. Namun, Surono mengaku bekerja semata-mata mengharap Ridho Allah, ia ingin terus bisa menyantuni anak-anak yatim dan kaum dhuafa.

Masyaa Allah!

Sahabat, begitulah kekuatan sebuah keimanan. Tanpa keimanan yang kuat, Surono mungkin berakhir di perempatan lalu lintas sebagai pengemis. Namun, dengan semata mengharap ridho Rabbnya, Surono pantang menyerah, alih-alih meminta-minta, Surono kini bahkan sanggup memberi.

Sahabat, memberi tak perlu menunggu kaya dan berkemampuan. Memulai dari apa yang kita bisa sembari terus membenarkan niat, akan memudahkan setiap niat baik kita menjadi kenyataan.

Semoga kisah ini bermanfaat dan kita bisa mengambil pelajaran darinya!

Sumber Referensi:
Liputan6.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *